Menu Tutup

Apasih Terapi Okupasi?

apasih terapi okupasi

Terapi okupasi adalah terapi untuk membantu seseorang menguasai keterampilan motorik halus dengan lebih baik. Terapi okupasi dilakukan untuk membantu menguatkan, memperbaiki koordinasi dan keterampilan otot pada anak autisme dengan kata lain untuk melatih motorik halus anak. Sebelum diputuskan menjalani terapi okupasi, dokter akan mengidentifikasi terlebih dahulu sejauh mana kesulitan pasien dalam menjalani kegiatan sehari-hari dan menentukan diagnosis penyakit yang menyebabkan pasien mengalami hambatan fisik, mental, atau sosial.

Gangguan persepsi sensori yang tidak segera mendapatkan penanganan atau terapi akan menyebabkan masalah yang lebih serius, pada fase tertentu ada beberapa pasien yang merasa terganggu dengan isi halusinasinya, karena dapat berupa ancaman dan suara yang menakutkan. Pasien tersebut tidak bisa mengontrol halusinasinya maka pasien akan mencederai dirinya sendiri, orang lain dan lingkungannya. Penanganan pada pasien gangguan persepsi sensori diantaranya adalah dengan menggunakan terapi okupasi. Satu jenis terapi okupasi yang indikasinya untuk pasien gangguan persepsi sensori adalah terapi okupasi aktivitas waktu luang. Terapi ini membantu memberikan stimulus melalui aktivitas yang disenangi pasien, aktivitas ini bertujuan untuk memberi motivasi, hiburan serta mengalihkan perhatian pasien dari halusinasinya.

Seperti Apa Layanan Terapi Okupasi?

Jenis terapi okupasi yang diberikan akan disesuaikan dengan usia, pekerjaan atau aktivitas sehari-hari, dan kebutuhan pasien. Layanan terapi okupasi biasanya mencakup ketiga hal berikut:

  • Evaluasi yang bersifat individual
    Pada evaluasi individual, pasien, keluarga pasien, dan dokter akan bersama-sama menentukan apa yang hendak dicapai melalui terapi ini. Dokter juga akan menentukan diagnosis penyakit yang menyebabkan pasien membutuhkan terapi okupasi.
  • Perencanaan intervensi
    Setelah itu, dokter akan menentukan jenis terapi dan latihan sesuai kebutuhan pasien. Fokus terapi dan latihan yang diberikan adalah untuk memampukan pasien kembali beraktivitas secara mandiri, misalnya mencuci, memasak, dan berpakaian tanpa bantuan orang lain.
  • Evaluasi hasil
    Evaluasi dilakukan untuk memastikan bahwa hasil terapi okupasi sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan pada awal terapi. Evaluasi ini juga dibutuhkan untuk membuat rencana tindakan lain jika diperlukan, agar hasil terapi bisa menjadi lebih baik.

Terapi okupasi dilakukan di bawah pengawasan dokter spesialis rehabilitasi medis. Dokter spesialis ini akan mendampingi pasien selama terapi, memberikan rekomendasi alat bantu sesuai kebutuhan pasien, serta mengajarkan cara penggunaannya. Dokter juga akan memberikan pengarahan kepada anggota keluarga dan pengasuh untuk mendampingi dan merawat pasien di rumah.

Mengapa Anda membutuhkan terapi okupasi?

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, terapi okupasi diperlukan karena penderita penyakit tertentu mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Dengan kata lain, berikan terapi okupasi bagi orang berkebutuhan khusus agar bisa beraktivitas dengan lancar. Namun, sebelum memutuskan terapi okupasi, cobalah untuk mendengarkan saran dari dokter dan anggota keluarga Anda. Dokter juga akan menentukan terlebih dahulu tingkat kesulitan yang dihadapi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Berikut ini adalah beberapa situasi yang memerlukan terapi okupasi:

·         Orang yang pulih dan kembali bekerja setelah cedera di tempat kerja.

·         Orang dengan cacat mental dan fisik saat lahir. Selain itu, mereka yang tiba-tiba mengalami kondisi kesehatan yang serius, seperti stroke, serangan jantung, cedera otak, dan amputasi.

·         Orang dengan penyakit kronis, seperti arthritis, multiple sclerosis, atau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

·         Orang dengan masalah kesehatan mental atau perilaku, seperti penyakit Alzheimer, stres pasca-trauma, gangguan makan, dan penyalahgunaan zat.

·         Orang dengan ketidakmampuan belajar atau kelainan perkembangan. Selain hal di atas, anak dengan penyakit tertentu juga dapat menerima terapi okupasi. Misalnya, penderita down syndrome, spina bifida, dan ketidakmampuan belajar.

Jika ada anggota keluarga atau teman yang mengalami kondisi di atas, tidak ada salahnya menyarankan untuk menjalani terapi okupasi. Untuk mendapatkan perawatan ini, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

 

 

 

Source:

Budi, Santoso Tri. 2008. Terapi Okupasi (Occupational Theraapy) pada Anak dengan Kebutuhan Khusus. Konsultan pada Anak dengan Kebutuhan Khusus

Keliat. (2011). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. EGC, Jakarta. (1st ed.). Jakarta: EGC.

Videbeck. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC; Jakarta: EGC.

 

Djunaedi & Yitnarmuti. (2008). Psikoterapi Gangguan Jiwa. Jakarta: PT. Buana Ilmu Populer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *