Menu Tutup

Apa Pria Perlu Untuk Sunat?

Apa Pria Perlu Untuk Sunat

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organisation -WHO) mengungkapkan bahwa sunat pada laki-laki dewasa bisa mengurangi risiko infeksi HIV hingga 60 persen. Angka tersebut kemudian menjadi salah satu acuan rekomendasi untuk sunat.

Sunat atau khitan atau sirkumsisi adalah proses pemotongan kulit pada kepala penis atau kulit kulup. WHO merekomendasikan sunat dilakukan pada bayi laki-laki demi menjaga kesehatan mereka. Kulit kulup yang tidak dibuang bisa menyebabkan penyakit kelamin dan saluran kencing bila tidak dirawat dengan baik. Biasanya, sunat dilakukan oleh anak lelaki sebelum mencapai usia akil balig. Sebagian besar orang di Indonesia menjadikan sunat sebagai tradisi budaya, keyakinan agama, kebersihan pribadi, atau untuk mencegah berbagai penyakit.

Manfaat Sunat bagi Kesehatan

Selain dilandasi anjuran agama, sunat pada dasarnya memiliki banyak manfaat yang baik untuk kesehatan. Berikut adalah beberapa manfaat sunat untuk kesehatan yang perlu Anda ketahui:

  • Mengurangi risiko terjangkit penyakit menular seksual
  • Mengurangi risiko terkena infeksi saluran kemih (ISK)
  • Mencegah terjadinya fimosis atau ketidakmampuan untuk menarik kembali kulit penis atau kulup
  • Mencegah balanitis (radang pada ujung kepala penis) dan balanoposthitis (radang pada kepala penis dan kulup)
  • Mengurangi risiko terjadinya kanker serviks pada pasangan wanita dan juga kanker penis

Karena sunat menghilangkan kulit di ujung penis atau kulup, hal ini membuat penis jadi lebih mudah dibersihkan. Jadi, bagi Anda yang belum pernah menjalani prosedur sunat sewaktu kecil, tidak ada kata terlambat untuk menurunkan risiko terkena penyakit di atas dengan sunat dewasa.

Fakta sunat yang perlu diketahui

1.    Sunat untuk mencegah penyakit

Ketika seorang pria tidak disunat, uap air dapat terjebak antara penis dan kulup, yang dapat menciptakan lingkungan untuk tumbuhnya bakteri. Dilansir dari Mayo Clinic,  bahwa penis yang tidak disunat lebih rentan terhadap bakteri atau agen penyakit tertentu, sehingga meningkatkan risiko terjadinya gonore (kencing nanah), kanker penis, dan radang uretra.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengatakan bahwa tindakan sunat mengurangi risiko seseorang mengalami penyakit menular seksual atau HIV.

  1. Kulup Lebih Kompleks dari yang Dibayangkan

Kulup pada penis bukan sekadar kulit. Fakta ini harus Anda ketahui sebelumnya. Jika diibaratkan, kulup itu seperti kelopak mata. Melindungi bagian yang lebih sensitif di dalamnya. Kulup sebenarnya terbuat dari selaput lendir, serupa dengan bagian pada kelopak mata atau bagian dalam mulut.

Hal itu yang membuat kulup bertanggungjawab akan hubungannya dengan infeksi menular seksual. Kulup juga dipercaya mengandung sejumlah besar sel Langerhans, sejenis sel kekebalan yang ditargetkan infeksi HIV. Pada perempuan kulup juga bisa diibaratkan seperti klitoris.

  1. Parafimosis, Bukan Disunat Jin

Beberapa orang ada yang percaya bahwa disunat jin itu nyata. Padahal, kondisi penis seperti “disunat jin” dalam sisi medis disebut parafimosis. Ini adalah istilah medis untuk kelainan bentuk penis yang terjadi karena preputium tertarik ke belakang, melipat, serta menjerat batang penis. Sehingga, preputium tidak bisa lagi ditarik ke depan, dan membuat kepala penis terlihat seolah-olah seperti habis disunat.

Dilansir dari National Health Service UK, sunat dapat menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi parafimosis. Penanganan yang terlambat dapat menyebabkan beberapa komplikasi yang cukup serius, seperti berkurangnya aliran darah menuju penis.

Source: National Health Service UK. Diakses pada 2020. Circumcision in Men

Circumcision. Population Health Metrics. 14(1), pp. 1–13.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *